SELAMAT DATANG

Kiranya para pengunjung mendapatkan inspirasi dalam menjalani kehidupan lewat cerita-cerita ataupun artikel-artikel yang dimuat dalam blog ini. Karena hanya didalam Yesus ada kehidupan, dan di dalam Yesus pula, hari ini lebih baik dari hari kemarin, esok lebih baik dari hari ini, lusa lebih baik dari hari esok, minggu ini lebih baik dari minggu kemarin, minggu depan lebih baik dari minggu ini, bulan ini lebih baik dari bulan kemarin, bulan depan lebih baik dari bulan ini, tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, dan tahun depan lebih baik dari tahun ini... Sampai kemuliaan Kristus nyata dalam kehidupan kita, dan sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Raja kita yang Mulia, Gembala Agung kita, Juruselamat manusia, dalam kemuliaan-Nya, dan hidup selama-lamanya bersama-Nya..
Amsal 4:18, "Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari..."

Laman

Senin, 01 Maret 2010

RIWAYAT HIDUP YESUS KRISTUS

I. KEBENARAN SEJARAH


Fakta sejaran bahwa Yesus Kristus pernah hidup di dunia ini tak dapat disangkal. Segenap upaya membuktikan bahwa itu tidak benar selama 200tahun silam gagal total. Kenyataan bukan hanya bahwa seluruh Perjanjian Baru (PB) disusun berdasarkan Kristus yang benar hidup, tapi lahirnya dan berkembangnya gereja bahkan perjalanan sejarah dunia sejak 19 abad yang lalu, tak dapat diterangkan terlepas dari realitas sejarah tentang Kristus yang hidup, mati dan bangkit kembali.

Bahwa sumber-sumber data di luar Alkitab dari abad pertama sesudah pelayanan Kristus hanya sedikit menyinggung mengenai Dia, hal itu adalah lumrah. Agama Kristen adalah salah satu dari sekian agama yang alhir di negeri timur wilayah dunia Romawi pada kedua abad pertama. Perihal agama itu sedikit sekali yang menarik para ahli sejarah bangsa-bangsa. Tetapi sesudah agama Kristen bertikai dengan negara, agama itu penting disebut terutama pada kurun waktu itu, dan penulis-penulis non-Kristen pertama yang menyinggungnya berkaitan dengan pertikaian itu menyebut Kristus adalah pendiri agama Kristen (Tacitus, Annals 15.44; Suetonius,Claudius 25, [/i]Nero[/i] 16; Plinius, Epistles 10.96).

Di luar berita dalam tulisan Yosefus (Antiquities of the Jews 18.64), yang sangat diragukan dan sudah pasti banyak ditambah dengan sisipan, tak pernah Yesus disebut langsung dalam tulisan-tulisan Yahudi yang non-Kristen pada zaman itu. Penyebabnya ialah rasa permusuhan dan dendam yang sellau timbul jika pemimpin-pemimpin Yahudi pada zaman itu teringat kepada Yesus. Tetapi secara tak langsung ada rujukan kepada Yesus dalam tulisan-tulisan rabbi terdahulu, yang menyebut Yesus adalah orang durhaka Israel dan yang mempraktekkan sihir, yang mencemooh kata-kata orang bijak, menuntut orang tersesat, datang untuk menambahi Hukum Taurat, yang mati digantung pada hari sebelum Hari Raya Paskah orang Yahudi, dan yang murid-muridNya menyembuhkan orang sakit dalam namaNya. Kita dapat mengenal Kristus di belakang gambaran ini.

Pada abad-abad pertama Masehi, tak seorangpun gembong musuh agama Kristen yang menyangkal bahwa Yesus hidup dan mati di Palestina, dan bahwa Dia melakukan mujizat-mujizat – tak menjadi doal, keterangan apapun yang mereka berikan tentang kekuasaan yang Dia gunakan untuk melakukannya. Dan pada masa kini tak seorangpun ahli sejarah yang obyektif menyangkal fakta sejarah mengenai Kristus. Bukanlah ahli sejarah bila bermain-main dengan khayalan suatu ‘dongeng Kristus’. Tidak hanya kematianNya saja, tapi kebangkitanNya juga harus dihitung masuk realitas sejarah yang paling teduh dan sahih.

II. SUMBER-SUMBER


Mengenai keterangan terperinci peri-kehidupan Kristus, kita mutlak bergantung pada PB. Seperti sudah dikatakan, tidak banyak yang diharapkan dari penelitian atas kepustakaan Yahudi atau non-Yahudi dari dekade awal tahun Masehi, dan jika kita beralih ke kepustakaan Kristen di luar Alkitab dari zaman yang sama, hanya sedikit yang akan kita yang akan kita dapati disana yang belum disebut dalam PB. Kebanyakan Injil Apokrifa mencolok sebagai hasil khayalan, sehingga – dengan cara yang bertentangan – membantu untuk membuktikan watak sejarah Injil-Injil Kanon, tapi tidak menambah pengetahuan apapun tentang Tuhan Yesus.

Berita Injil bukanlah riwayat hidup dalam arti biasa ungkapan itu. Masing-masing penulis keempat Injil mempunyai tujuan khas dalam menulis Injilnya, dan mereka teliti memilih bahan dari data yang tersedia tentang hidup Tuhan Yesus Kristus. Kendati banayak beda penekanan peri segi-segi tertentu hidup Yesus, keempat Injil itu memberitakan Kristus yang satu dan sama adalah Tuhan dan Juruselamat, Anak Manusia sejati dan Anak Tunggal Allah.

Karena keempat Injil bukanlah riwayat hidup biasa, tapi pengumuman kabar baik mengenai Yesus yang adalah Juruselamat dan Tuhan, maka sukar mencari di dalamnya kronologis yang ketat. Pada pihak lain, tujuan agamawi para penulis tidak menyesatkan mereka untuk mengabaikan watak sejarah hidup Yesus. Seperti jelas dinyatakan dalam kata pendahuluan Injil ketiga, Lukas, para penulis itu benar-benar menyadari betapa mendesak dan perlunya mengumumkan kebenaran tentang kristus. Bagi mereka dan sesama mereka yang seiman kepercayaan pada Kristus adalah soalan hidup dan mati. Karena itu mereka tak dapat mengalaskan iman mereka pada takhayul, dongeng atau legenda. Kepercayaan seperti yang dimiliki generasi Kristen pertama menuntut ketaatan mutlak sampai mati. Kepercayaan seperti itu hanaya dapat didasarkan pada fakta-fakta yang benar-benar meyakinkan. Lagipula, begitu dekat dan hidup hubungan para penulis Injil dengan banyak saksi mata yang sempat mendengar dan melihat sendiri Tuhan Yesus, sehingga para penulis itu mempunyai kesempatan yang khas luar biasa untuk memperoleh bukti-bukti nyata dan sah. Diamping itu, karena fakta-fakta historis itu diperoleh dari begitu banyak saksi mata, maka para penulis Injil tidak berani memberikan keterangan-keterangan fiktif.

Kendati Lukas memasukkan kedalam Injilnya sebagian besar tulisan Markus, dan mungkin Yohanes sudah mengena; baik ketiga Injil Pertama, tapi masing-masing keempat Injil itu merupakan sumber yang berdiri sendiri mengenai hidup Tuhan Yesus. Masing-masing menekankan segi tertentu dari hidup dan pelayanan Kristus – yang satu melebihi yang lain, tapi pada dasarnya kristus yang sama dan yang satu itulah yang kita jumpai dalam keempatnya. Hal itu benar dalam Injil Yohanes, seperti dalam Injil-injil Sinoptik. Injil Yohanes melengkapi yang lain, dan – sebagai hasil perenungan yang bertahun-tahun dan pemikiran yang lebih dalam peri sejarah Injil – Yohanes lebih memusatkan perhatiannya pada ajaran Tuhan Yesus mengenai diriNya sebagai Anak Allah. Tapi Yohanes tidak memberitakan Kristus yang lain dari Kristus yang diberitakan oleh ketiga penulis Injil terdahulu.

Ringkasnya, sumber paling jitu dan paling terpercaya untuk memperoleh informasi tentang hidup Yesus Kristus adalah keempat Injil Kanon. Kendati bagian PB lainnya tidak menambah rincian informasi atas peri kehidupan Yesus yang disajikan dalam Kitab-kitab Injil, Penting diperhatikan bahwa Kitab Kisah Para Rasul, Surat-surat dan Wahyu semuanya disusun berdasarkan fakta bahwa Yesus hidup, mengajar, menderita kematian dan menang atas maut seperti diceritakan oleh Kitab-kitab Injil. Beberapa surat dalam PB ditulis awal tahun 50M (atau sedikit lebih dini(, umpamanya 1 dan 2 Tesalonika dan Galatia, dan mungkin Yakobus – ditulis kira-kira 20tahun kemudian dari tanggal penyaliban Kristus).
Selanjutnya, mengingat kenyataan bahwa salah seorang penulis PB, yakni Paulus, yang begitu kejinya menganiaya pengikut Kristus, tapi yang bertobat kemudian tahun 32M atau 33M, juga surat Yakobus ditulis oleh saudara Tuhan Yesus, maka dapatlah kita bayangkan betapa dekatnya hubungan masa hidup Tuhan Yesus di bumi ini (tahun 4sM – 30M) dengan generasi masyarakat Kristen yang pada masa hidup mereka dokumen-dokumen asli PB ditulis.

Ringkasan yang diberikan Paulus tentang pemberitaan para rasul dalam 1 Korintus 15:1-8 penting sekali :

15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.
15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu -- kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.
15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.
15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.


Dalam bagian ini Paulus tidak hanya memberitakan Injil yang satu dan sama dengan yang diberitakan keempat Kitab Injil, tetapi ia juga menyatakan betapa dekatnya hubungan gereja Kristen perdana, para rasul dan saksi-saksi mata lainnya dengan hidup Tuhan Yesus. Maka tidaklah mengherankan menjumpai bahwa keempat Kitab Injil, kendati dengan perbedaan-perbedaan penekanan dan keberbagaian perincian informasi, toh keempatnya memberikan berita Kristus yang sama yang datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang hilang. Tuhan yang datang dari Allah, yang kepadaNya telah diberikan segala kuasa di Sorga dan di bumi (Matius 11:27; 28:18; Markus 1:11; 8:29; Lukas 1:32,35; 2:11; 9:35; 10:22; Yohanes 1:1; 20:28, dll).

Justru sesudah mengalami kecaman-kecaman tajam dan bertubi-tubi lebih dari satu abad, sifat kesahihan dan ketegaran keempat Injil Kanon untuk dipercayai makin mantap dan teguh dari sebelumnya. Teori – satu demi satu, juga aliran aliran pemikiran yang sambung-menyambung yang meragukan kesahihan keempat Injil untuk dipercayai, rontok berguguran. Kendati Kitab-kitab Injil memang bungkam tentang banyak rincian perihal hidup Yesus, keempat Injil saling mengukuhkan dan melengkapi, menyajikan semua fakta mengenai Yesus Kristus yang perlu kita ketahui, supaya kita mempercayai Dia adalah ‘Mesias, Anak Allah dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya’ (Yohanes 20:31)

III. UNIK


Ditinjau dari berbagai sudut hidup Tuhan Yesus adalah unik. Satu dari keunikan itu ialah hidupNya adalah kegenapan nubuat-nubuat khusus yang dinubuatkan ratusan tahun sebelum kelahiranNya. Yesus sendiri, umpamanya, beberapa kali mengatakan kepada murid-muridNya bahwa Dia harus menderita, mati dan bangkit dari antara orang mati sesuai Kitab Suci (Bandingkan Lukas 18:31-34). Sesudah kebangkitanNya, Ia menjelaskan bahwa hidupNya, kematianNya dan kebangkitanNYa menggenapi semua yang tertulis dalam Kitab Suci (Lukas 24:25-27, 44-48 ).

Dalam tuturan Petrus, Stefanus dan Paulus yang tertulis dalam Kitab Kisah Para Rasul dan hampir semua kitabd dalam PB, berulang kali diumumkan bahwa hidup, penderitaan, kematian dan kenaikan Tuhan Yesus adalah penggenapan janji-janji Allah dalam PL. Tak ada satupun dalam sejarah dunia yang dapat dibandingkan dengan ketepatan fakta, bahwa ratusan tahun sebelum Yesus lahir, ada banyak hal mengenai Dia – bahkan tempat kelahiranNya (Mikha 5:2) – sudah di-pra-ucapkan dan dicatat dalam kitab-kitab PL. Dan ditinjau dari berbagai sudut – mulai dari ia dikandung secara supra-alami sampai peristiwa kenaikanNya ke Sorga – hidupNya adalah khas dan unik. Hanya didalam hidup Dia tampak kepada kita Allah yang menjadi manusia. Sementara hidup semua pendiri agama lainnya mengungkapkan kepada kita orang-orang yang mencari kebenaran dan berusaha memahami hakikat agama, hidup Yesus Kristus menyatakan Allah Pengasih dan Penegak keadilan yang berprakarsa menyelamatkan umat manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa.

Semua klaim Yesus mengenai diriNya, bahwa Dia adalah Anak-Allah yang kekal dibernarkan oleh hidupNya, kematianNya, kebangkitanNya dan kenaikanNya yang penuh kejayaan. Ia memang khas dan unik diantara segenap umat manusia.

IV : MASA-MASA TERPENTING


Kendati tidak ada kitab yang menyusun riwayat hidup Yesus Kristus secara kronologis, keempat Injil menyajikan cukup bahan yang memungkinkan kita menunjuk masa-masa penting dalam hidupNya :


A. KelahiranNya yang supra alami.


Para penulis Injil beroleh kesempatan luar biasa untuk menyelidiki kebenaran tentang kelahiran Yesus Kristus. Lepas dari kenyataan bahwa Maria, ibu Yesus, diserahkan dalam pengasuhan murid yang paling akrab kepada Yesus (lihat Yohanes 19:26-27), baiklah diingat bahwa Yakobus, saudara Yesus, beberapa tahun menjadi salah seorang pemimpin jemaat Yerusalem. Sesudah kebangkitan dan kenaikan Yesus, Maria dan anak-anaknya tidak lagi meragukan ke-Tuhan-an Yesus. Mereka hidup dalam persekutuan yang akrab dengan sesama mereka, seiman di jemaat Yerusalem (lihat Kisah 1:14).

Ketika Lukas menyertai Paulus ke Yerusalem tahun 56 atau 57M, salah seorang yang dikunjungi ialah Yakobus, saudara Yesus (Kisah 21:17-18 ). Waktu itu – sesuai pendahuluan Injilnya – Lukas sudah memebri perhatian besar pada fakta-fakta yang berkaitan dengan hidup Tuhan Yesus. Apakah Lukas bertemu dengan Maria tidaklah diberitakan, tapi pasti kesempatan terbuka lebar baginya untuk memperoleh informasi mengenai kelahiran Tuhan Yesus, teristimewa informasi khusus yang hanya Maria satu-satunya nara-sumber yang otoritatif. Justru sudut pandang dan pengalaman pribadi Maria-lah yang mewarnai dan mendasari laporan Lukas tentang ke-supra-alamian Yesus yang dikandung dan dilahirkan (Lkas 1:26-56; 2:1-51).

Pada pihak lain Matius menyusun laporannya berdasarkan sudut pandang dan pengalaman pribadi Yusuf. Tetapi kedua Injil itu bulat-bulat sepakat bahwa keberadaan dan kehadiran ‘jasadi’ Yesus dalam kandungan Maria tidaklah berasal dari atau oleh bapak manusiawi, melainkan oleh kuasa Roh Kudus dan lahir sebagai Anak Allah (Lukas 1:35; Matius 1:18-24). Persis sesuai kenyataan ini memulai Injilnya ‘Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah …Firman yang telah menajdi mansuia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran’ (Yohanes 1:1-14). Selengkapnya silahkan baca artikel INKARNASI.


B. Masa bayi, kanak-kanak dan berjenjang dewasa.


Lukas 2:40,52 melaporkan jelas perkembangan hidup Yesus dari masa kanak-kanak sampai jenjang dewasa berjalan seperti biasa tapi sempurna. Setiap segi kehidupan ideal manusia sempurna seperti yang dikehendaki Allah terwujud nyata dalam hidup Yesus. Kendati Dia hidup ditengah-tengah keluarga sederhana bersama Maria, Yusuf dan beberapa adikNya lelaki dan perempuan, hidupNya seluruhnya selaras dengan kehendak Allah (Lukas 2:52). Dan sejak usia anak-anak (Lukas 2:49) nampaknya ia sudah sadar bahwa Dia adalah Anak Allah dalam arti yang khas.

Dari Lukas 2:46-47 jelas pula bahwa sejak usia anak-anak Ia sudah mempelajari kitab-kitab PL secara mendalam. Dan kendati mungkin Yusuf meninggal pada usia muda, sehingga Yesus harus bekerja keras sebagai tukang-kayu untuk memenuhi kebutuhan keluargaNya (Matius 13:55-56), Ia menyediakan cukup waktu memahami Kitab Suci dan berdoa.

Memang ada sedikit infomasi tentang masa kanak-kanak Yesus, dan kesimpulan-kesimpulan yang dapat ditarik dari Kitab-kitab Injil mengenai hidupNya dalam hal pertumbuhan fisik, mental dan rohani menuju kedewasaan penuh, tapi diluar itu PB tidak mencatat masa kehidupan Yesus dari umur 12 tahun, sehingga muncul banyak rekaan-rekaan yang mengatakan bahkan Yesus ke India dan sebagainya. Mengenai hal tersebut silahkan ada baca artikel ini :

[url=http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=101#101]THE LOST YEARS OF JESUS:
DIMANA YESUS BERADA KETIKA BERUSIA 12-30 TAHUN?[/url]

C. Babtisan dan Pencobaan


Pada usia + 30tahunYesus dibabtis oleh Nabi Yahya (Yohanes Pembabtis), dan pada saat itu pula Ia sudah meninggalkan kampung halamanNya di Nazareth. Pada saat setelah Babtisan, Yesus menerima dimuka umum tigas ke-Mesias-anNya sebagai Anak Allah dan Juruselamat, yang sekalipun Dia sendiri tidak berdosa (2 Korintus 5:21), memikul hukuman dosa umat manusia.

Allah Bapa membenarkan dan mensahihkan tindakan AnakNya, yang dalam kesadaran penuh menyamakan diriNya dengan orang berdosa. Pembenaran dan pensahihan itu dinyatakan dengan turunnya Roh Kudus ‘dalam wujud burung merpati’ dan suara dari Langit ‘Engkau inilah Anakku yang Kukasihi, kepadaMu Aku berkenan’ (Lukas 3:22 – terj. Lama). Pernyataan ini – yang menghubungkan Mazmur 2:7 dengan Yesaya 42:1 – mengenal Dia adalah Mesias, tapi itu berarti Dia wajib menggenapi panggilan kemesiasanNya dalam citra Hamba YHVH yang taat dan menderita sengsara.

Dengan keyakinan demikian dalam hatiNya, Yesus dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun Yudea untuk dicobai Iblis (Matius 4:1). Guna membuktikan kelaikan dan kesanggupanNya menjadi Juruselamat manusia, Dia harus membuktikan dulu ketaatanNya secara mutlak dan tanpa syarat kepada BapaNya, juga kuasa keperkasaanNya mengalahkan penggoda ulung itu. Peristiwa pencobaan ini mencolok dibandingkan peristiwa kejatuhan ke dalam dosa pada Kitab Kejadian pasal 3; disana Adam dan Hawa menyerah terhadap pencobaan kendati mereka hidup dalam keadaan paling menguntungkan. Padahal, disini, Yesus menang berjaya kendati Ia dicobai dalam keadaanNya yang paling buruk dan mengerikan. Setelah 40 hari di padang gurun terus menerus dieckam ketegangan fisik dan spiritual, Iblis mengerahkan segenap kemampuan dan kelicikannya menipu, untuk mendesak Yesus mencobai BapaNya, atau, menolak melakukan misi-Nya sesuai yang digariskan dalam seruan dari langit, seperti yang dikehendaki BapaNya bagi Dia. Tapi Yesus mematahkan cobaan itu betapapun lihainya dan halusnya cobaan itu. Yesus tetap taat tak tergoyahkan kepada kehendak BapaNya. Yesus bangkit berjaya dari pertarungan spiritual itu sebagai Anak Allah yang taat dan Hamba yang setia (Matius 4:1,11; Markus 1:12-13; Lukas 4:1-13).

D. Awal pelayananNya terhadap masyarakat umum


Setelah berjaya mematahkan semua serangan Iblis, Yesus memulai tahap pertama pelayananNya terhadap masyarakat umum secara terbuka, memanggil murid-muridNya yang pertama (Yohanes 1:35-51), menyatakan kuasa ke-Allah-an-Nya dengan mengubah air menjadi Anggur (Yohanes 2:1-11), melakukan mujizat-mujizat (Yohanes 2:23 dab), mengajarkan kepada Nikodemus seorang Farisi tentang kebenaran-kebenaran rohani yang revolusioner, melayankan keselamatan bahkan kepada orang Samaria yang dimata orang Yahudi adalah hina (Yohanes 4:1-42).

Tahapan pelayananNya ini dipersiapkan Nabi Yahya (Yohanes Pembabtis), dan mencapai puncaknya tatkala beberapa orang Samaria mengakui, “Kami tahu, bahwa Dia-lah benar-benar Juruselamat dunia” (Yohanes 4:42).

E. Pelayanan dan ajaran berpusat di Galilea


Penahanan Nabi Yahya menjadi tanda bagi Yesus untuk memulai pelayananNya di Galilea , dengan pengunuman “Waktunya telah tiba, Kerajaan Allah sudah dekat” (Markus 1:14 dab). Saat Ia menyatakan di Sinagoge Nazareth bahwa Dia-lah yang menggenapi janji-janji mengenai Mesias, Dia ditolak oleh masyarakat sekampungNya itu (Lukas 4:16 dab). Lalu Ia menjadikan Kapernaum markas besarNya. Ia bekerja dan mengajar di Kapernaum dan daerah-daerah lain kira-kira 1 tahun (Matius 4:12-14:13; Markus 1:14- 6:34; Lukas 4:14-9:11; Yohanes 4:46-54 dst), sambil menyatakan kuasa keilahianNya atas alam (Markus 4”35-41; 6:34-51 dst), atas badan manusia dan atas penyakit badani dan rohani (Matius 8:1-17; 9:1-8 dst), bahkan atas hidup dan kematian (Lukas 7:11-17; Matius 8:18-26), Selanjutnya Ia menyatakan memiliki otoritas final atas nasip akhir dan kekal umat manusia. Dalam Khotbah di Bukit dan ajaran-ajaranNya yang lain, Ia menyatakan otoritasNya yang khas memberitakan undang-undang Kerajaan Allah (Matius 5:1-7:29 dst).

Sementara Ia menyatakan keunggulan otoritasNya sebagai Mesias, pada periode ini Ia menyatakan kasihNya dan keprihatinanNya terhadap orang-orang yang tertindas secara badani dan rohani (Matius 9:1-8, 18:22; Lukas 8:43-48 dst). Berulang kali Ia menyatakan bahwa Dia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan Ia melakukan hak khas ilahi mengampuni dosa (Lukas 5:20-26; 7:48-50). Ia memilih 12 orang diantara pengikutNya untuk menjadi murid khusus bagiNya (Matius 10:1-4; Lukas 6:12-16), yang secara sistematis diajar dan dilatih olehNya menjadi rasul-rasul.

Otoritas Yesus mengajar begitu mencolok dan khas. Dia begitu tegar tak goyah sedikitpun menghadapi para penentangNya dari kalangan Yahudi dan Farisi. Mujizat-mujizat penyembuhan yang Dia perbuat dan manifestasi-manifestasi lainnya menyatakan kuasaNya atas alam (Lukas 4:33-41; Markus 5:1-42 dst). Semuanya itu membuat Dia sangat terkenal dan dikagumi masyarakat di seluruh galilea (Lukas 4:40-42; 5:15, 26; 6:17-19). Ketenaran ini mencapai puncaknya pada mujizat memberi makan 5000 orang (Matius 14:13-21; Markus 6:30-44; Lukas 9:10-17; Yohanes 6:5-13). Peristiwa ini, yang begitu gamblang membuktikan kemesiasanNya mencorong orang banyak untuk menobatkan Dia menjadi raja (Yohanes 6:15).

F. Dua belas orang dilatih


Karena Yesus menolak dinobatkan menjadi Mesias duniawi (Yohanes 6:26-27) massa bahkan jumlah terbesar muridNya dalam arti lebih luas (Yohanes 6:66-67) meninggalkan Dia. Lalu Yesus memasuki wilayah Tirus, Sidon dan Kaisarea Filipi (Matius 15:21; 16:13; Markus 7:31 dsb) dan melayani disana. Ketika Yesus berkunjung lagi ke daerah sekitar danau Galilea, Ia menyembuhkan dan benolong banyak penderita yang tertekan jiwa, dan untuk kedua kalinya Ia membuat mujizat memberi makan banyak orang (Matius 15:29-39).

Kemudian Ia membawa murid-muridNya menyendiri ke tempat yang sepi. Lalu Ia mengajukan pertanyaan pelik “Siapakah Aku ini?” (Matius 16:15). Petrus mewakili semua rasul menjawab tegas “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Matius 16:16). Sejak itu Yesus mulai mempersiapkan murid-muridNya untuk menghadapi pukulan dahsyat yang akan menimpa mereka di yerusalem (Matius 16:21-26). Tapi ketika itu juga dengan jelas dan berulang-kali Ia mengajarkan pada akhirnya kemenangan akan menjadi milik Dia (Matius 16:27-28), karena itu pengikutNya tidak perlu takut (Lukas 12:4-12; 32-34).

Puncak pernyataan diri Yesus kepada murid-muridNya terjadi saat Ia dipermuliakan di atas gunung, pada saat mana Ia nampak dalam kemuliaan Ilahi kepada tiga orang muridNya yang paling akrab (Matius 17:1-13, Markus 9:2-10; Lukas 9:28-36). Karena Dia datang untuk menggenapi hukum Taurat maupun Nabi-nabi, Maka Musa (yang menggambarkan hukum Taurat) dan Elia (yang mewakili para nabi) nampak bersama-sama Dia dalam permuliaan itu, sebelum Dia pada akhirnya memulai perjalananNya menuju Yerusalem menanggung derita maut untuk menyelamatkan umat manusia. Sekali lagi suara Allah dari langit menyatakan Yesus adalah AnakNya yang terpilih, kepadaNya semua orang wajib menyimak dan patuh (Lukas 9:35).

G. Permusuhan yang memuncak


Setelah yesus menyatakan diriNya kepada murid-muridNya, dan murid-murid itu mengenal Dia adalah benar-benar Anak Allah (Matius 17:1-13; Markus 9:2-10; Lukas 9:18-20), maka Dia mempersiapkan mereka lebih terarah dari sebelumnya untuk mengemban tugas mereka di hari depan sebagai jajaran fondasi gerejaNya. Dia mengajarkan kebenaran kepada mereka, baik langsung atau berupa perumpamaan, da ia melanjutkan menyatakan kuasa keilahianNya dan otoritasNya dengan menyembuhkan orang sakit (Lukas 14:1-6; 17:11-19), orang buta (Markus 10:46-53) dan menanggulangi beban hidup orang-orang yang tersiksa ditekan penderitaan.

Para penguasa Yahudi dan para pemimpin agama Yahudi makin keras dan gencar menentang Dia (Lukas 14:1b). Cara dan jalan apa saja ditempuh untuk menjerat Dia, menghancurkan pengaruhNya yang terus meningkat atas masyarakat banyak, dan alasan terus dicari-cari untuk menyeret Dia ke tangan penguasa Roma untuk dihukum mati (Matius 19:1-3; Lukas 11:53-54). Semua peringatan serius yang Dia tunjukkan kepada penentangNya, semua ajaranNya yang punya daya gudah dan yang dimaksudkan untuk mengubah hati mereka, semua karyaNya menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati (Yohanes 11:41-45), hanya mempertajam kebencian orang Farisi, ahli Taurat dan para pemimpin Yahudi terhadap Dia (Yohans 11:46-53).

H. Minggu terakhir di Yerusalem


Setelah Yesus dengan terang-terangan sebagai Mesias memasuki Yerusalem, diarak dan dielu-elukan orang banyak yang bersorak-sorai (Markus 11:1-10; Yohanes 12:12-19 dst), Ia mengusir para penukar uang dan pedagang binatang korban dari pelataran luar Bait Suci. Dengan demikian Ia memperluhatkan kekuasaanNya sebagai Mesias (Lukas 19:45-46; Matius 21:12-16) Akhir hidupNya sekarang makin dekat. Dengan gamblang Ia menelanjangi kemunafikan orang-orang yang memburu-buru Dia (Matius 21:33-34; 22:1-14; Markus 12:1-12; Lukas 20:9-47), menubuatkan apa yang akan menimpa orang Yahudi, Yerusalem dan Bait Suci (Lukas 21:20-24). Ia mempersiapkan pengikutNya perihal bahaya yang telah siap menanti mereka (Lukas 21:9-19 dst), memberi tahu apa yang telah tersedia bagi dunia dan gereja (Lukas 21:25-27) dan menubuatkan bahwa sejarah dunia akan mencapai puncaknya kelak pda saat Ia dalam kemuliaan datang lagi untuk menyatakan kuasa ke-Allah-an-Nya atas semua kuat kuasa kegelapan, dan untuk mulai menegakkan kerajaanNya yang kekal (Matius 24:29-31; 25:31-46).

Malam menjelang penderitaanNya, dan sebagai upaya terakhir mempersiapkan para rasul mengemban tugas besar yang menanti mereka, Yesus membasuk kaki murid-muridNya itu (Yohanes 13:1-11), mengajarkan kepada mereka pelajaran yang sangat penting tentang kerendahan hati (Yohanes 13:12-17; Lukas 22:24-30) dan memberitahukan kepada Yudas akan mengkianati Dia (Markus 14:18-21; Yohanes 13:21-30). Kemudian Ia menetapkan Perjamuan Kudus (Matius 26:26-29 dst) dan akhirnya Ia mendoakan kepada pengikutNya (Yohanes 17:1-26).

Lalu di Getsemani Ia menyerahkan diriNya mutlak seutuhnya untuk yang terakhir kalinya kepada kehendak BapaNya (Matius 26:39-46 dst). Setelah menimpakan atas diriNya segenap kesalahan umat manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, dengan ikhlas Ia membiarkan diriNya ditangkap, disiksa, dijatuhi hukuman yang salah dan disalibkan. penderitaanNya sebagai korban tebusan dosa mencapai puncaknya di kayu salib, menjelang akhir tiga jam gulita saat Ia berseru “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Telah Ia kemukakan kepada murid-muridNya bahwa Ia datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 26:28; Markus 10:45 dst). Setelah dengan sukarela Ia mempersembahkan diriNya sebagai Anak Domba Allah (Yohanes 1:29; 10:11-18 ), tugasNya tuntas seutuhnya. Lalu Ia menyerahkan nyawaNya kedalam tangan BapaNya dengan seru kemenangan “Sudah selesai!” (Yohanes 18:30).

I. Penguburan, kebangkitan dan kenaikan


Setelah Yesus mati, Ia tidak lagi dibawah kuasa musuh-musuhNya. Mayat Yesus diturunkan dari kayu salib (Lukas 23:50-53) dan dikuburkan di kuburan baru dalam suatu kebun. JanjiNya akan bangkit dari antara orang mati segera digenapi. Sebagai Kristus yang bangkit dan Tuhan yang hisup, Ia membasmi ketakutan dan kebimbangan hati pengikutNya (Lukas 24:13-49; Yohanes 20:11-21:22). Pada kurun waktu 40hari, Ia berulang-ulang menampakkan diriNya kepada mereka, membuka hati mereka supaya mengerti kitab suci PL, menjadikan akan mengutus Roh Kudus untuk menghibur, memimpin dan memberi kuasa kepada mereka bertindak sebagai saksiNya mulai dari yerusalem sampau ke ujung bumi (Kisah 1:8).

Setelah sekali lagi Ia meyakinkan mereka bahwa segala kuasa di Sorga dan di Bumi telah diberikan kepadaNya (Matius 28:18 ), Ia menugasi mereka untuk menjadikan semua bangsa muridNya (Matius 28:19). Lalu Ia berjanji akan senantiasa menyertai mereka, bahkan sampai akhir zaman (Matius 28:20), dan Ia pun terangkat ke Sorga – sambil mengangkat tanganNya memberkati mereka (Lukas 24:50).

Dengan demikian, hidup Yesus sebagai Manusia diantara manusia di bumi ini, pada akhirnya menang berjaya. Klaim para rasul sangat tepat menyimpulkan pelayanan Yesus ke bumi “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kisah 2:36).


Kepustakaan :

H Anderson, Jesus anda Christian Origins, 1964
O Borchert, The Original Jesus
FC Conybeare, The Historic Jesus
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid 2 Halaman 603.


YESUS TIDAK BERDOSA



Malaikat Gabriel dalam Injil menyaksikan Yesus sebagai KUDUS (Suci) :


* Lukas 1:35
LAI TB, Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
KJV, And the angel answered and said unto her, The Holy Ghost shall come upon thee, and the power of the Highest shall overshadow thee: therefore also that holy thing which shall be born of thee shall be called the Son of God.
TR, και αποκριθεις ο αγγελος ειπεν αυτη πνευμα αγιον επελευσεται επι σε και δυναμις υψιστου επισκιασει σοι διο και το γεννωμενον αγιον κληθησεται υιος θεου
Translit Interlinear, kai {lalu} apokritheis {menjawab} ho {itu} aggelos {malaikat} eipen {berkata} autê {kepadanya} pneuma {Roh} hagion {Kudus} epeleusetai {akan datang} epi {atas} se {engkau,} kai {dan} dunamis {kuasa} hupsistou {Yang Mahatinggi} episkiasei {akan menaungi} soi {engkau;} dio {karena itu} kai {juga} to {yang} gennômenon {dilahirkan} hagion {Kudus} klêthêsetai {akan dipanggil} huios {Anak} theou {Allah}



Ketiadaan dosa Yesus


Di dalam dunia ini, siapakah yang berani mengatakan dirinya tidak berdosa? Semua orang yang dianggap waras atau suci pun mengakui diri mereka berdosa. Hanya Yesus yang berani berterus-terang mengatakan diri-Nya tidak berdosa. Yesus berkata :


* Yohanes 8:46
LAI TB, Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku
KJV, Which of you convinceth me of sin? And if I say the truth, why do ye not believe me?
TR, τις εξ υμων ελεγχει με περι αμαρτιας ει δε αληθειαν λεγω διατι υμεις ου πιστευετε μοι
Translit Interlinear, tis {siapakah} ex {dari} humôn {kalian} elegchei {membuktikan bersalah} me {Aku} peri {karena} hamartias {suatu dosa} ei {jika} de alêtheian {kebenaran} legô {Aku mengatakan} diati {mengapakah} humeis {kalian} ou {tidak} pisteuete {percaya} moi {kepada-Ku}


Sebelum Yesus disalibkan, Dia pernah diadili sebanyak enam kali. Di kalangan mereka adalah para pemimpin masyarakat Yahudi, para penguasa Roma, para imam dan guru Taurat, tetapi tidak satupun yang dapat membuktikan dosa yang telah dilakukan oleh Yesus. Pilatus, gubernur kerajaan Roma berkata tiga kali, "Aku tidak mendapat alasan apapun untuk menghukum Dia." Pilatus berhasrat untuk membebaskan Yesus, tetapi kerana hasutan orang Yahudi dan teriakan mereka yang memohon agar Yesus disalibkan, Pilatus melihat bahawa kata-katanya sia-sia saja. Pilatus mengambil air lalu membasuh tangannya di hadapan orang ramai dan berkata, "Aku tidak bertanggungjawab terhadap kematian orang ini! Kamulah yang bertanggungjawab!" (Matius 27:24). Lalu dia menyerahkan Yesus untuk disalibkan.

Dalam beberapa hal, pertanyaan ini sangat hipotetis, karena Alkitab secara jelas mengajarkan bahwa Yesus tak pernah berbuat dosa (Ibrani 4: 15). Namun hal ini tetap dibahas oleh para ahli theologia secara panjang lebar. Secara teknis "tanpa cela" adalah doktrin yang mengajarkan bahwa Kristus tidak berbuat dosa sekalipun Ia telah dicobai :



Yesus tak pernah berdosa, tapi Ia telah dicobai.


* Ibrani 4:15,
LAI TB, Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.
KJV, For we have not an high priest which cannot be touched with the feeling of our infirmities; but was in all points tempted like as we are, yet without sin.
TR, ου γαρ εχομεν αρχιερεα μη δυναμενον συμπαθησαι ταις ασθενειαις ημων πεπειραμενον δε κατα παντα καθ ομοιοτητα χωρις αμαρτιας
Translit Interlinear, ou {bukan} gar {sebab} ekhomen {kami mempunyai} arkhierea {Imam Besar} mê {tidak} dunamenon {(yang) dapat} sumpathêsai {turut merasakan} tais astheneiais {kelemahan-kelemahan} hêmôn {kita} pepeiramenon {walaupun telah digoda} de {tetapi} kata panta {dalam segala sesuatu} kath {menurut} homoiotêta {cara yang sama} khôris {tanpa} hamartias {dosa}


Terjemahan yang tepat untuk "χωρις αμαρτιας - khôris hamartias" sebenarnya bukan "tidak berbuat dosa" melainkan "tanpa dosa".


Semua cobaan itu ditujukan langsung pada keadaan-Nya sebagai manusia, dan bukan sebagai Tuhan.


* Yakobus 1:13
LAI TB, Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.
KJV, Let no man say when he is tempted, I am tempted of God: for God cannot be tempted with evil, neither tempteth he any man:
TR, μηδεις πειραζομενος λεγετω οτι απο του θεου πειραζομαι ο γαρ θεος απειραστος εστιν κακων πειραζει δε αυτος ουδενα
Translit, mêdeis peirazomenos legetô hoti apo tou theou peirazomai ho gar theos apeirastos estin kakôn peirazei de autos oudena


Beberapa ahli theologia seperti Charles Hodge berpendapat bahwa Yesus Kristus dapat berbuat dosa. Dasar pendapatnya adalah bahwa godaan itu bukanlah suatu realitas kecuali ada suatu kesempatan untuk melakukannya.
Tetapi, Yesus Kristus tidak berdosa dengan pengertian tidak memiliki dosa ("αμαρτια - hamartia", kata benda) bukan tidak berbuat dosa (kata kerja). Jadi, bukan masalah "sanggup" atau "tidak sanggup" berbuat dosa, melainkan Dia "tidak mungkin" berbuat dosa. Kata kerja "berbuat dosa", Yunani "αμαρτανω - hamartanô" dengan segala perubahan bentuknya tidak pernah ditujukan kepada Yesus Kristus :


* 1 Yohanes 3:5
LAI TB, Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa."
KJV, And ye know that he was manifested to take away our sins; and in him is no sin.
TR, και οιδατε οτι εκεινος εφανερωθη ινα τας αμαρτιας ημων αρη και αμαρτια εν αυτω ουκ εστιν
Translit Interlinear, kai {adapun} oidate {kamu tahu} hoti {bahwa} ekeinos {(Dia) itu} ephanerôthê {telah dinyatakan} hina {supaya} tas hamartias {dosa-dosa} hêmôn {kita} arê {Ia menganggung/ Ia mengyingkirkan} kai {dan} hamartia {dosa} en {didalam} autô {Dia} ouk {tidak} estin {ada}


Pendapat lainnya (yang saya setujui) mengatakan bahwa Yesus tak pernah berdosa dengan alasan-alasan sebagai berikut.

Godaan yang dilakukan oleh setan adalah untuk menghancurkan kita. Godaan dan dakwaan tak harus berjalan bersama-sama, hanya godaan yang sukses dan berhasil yang dapat menghasilkan suatu dakwaan terhadap kita.

Semua godaan yang dihadapi Tuhan kita dalam Matius 4 sangatlah menggiurkan bagi seorang manusia. PergumulanNya dalam Taman Getsemani adalah nyata dan sukar. Dapat dikatakan bahwa Ia mengalami godaan terburuk yang pernah dialami oleh manusia , karena biasanya kita sudah menyerah kalah sebelum bertanding. Tuhan Yesus berdiri teguh menghadapi semua cobaan dan godaan Iblis yang paling berat.

Sekalipun dari sisi manusia Yesus mungkin mempunyai keiginan untuk berdosa tapi sisi keTuhanan-Nya menjagaNya sehingga Ia tak dapat berdosa. Adalah sangat tidak praktis bila ada pendapat yang menyatakan bahwa sisi manusia Yesus dapat mengambil keputusan secara independen untuk menentang sisi Ke Tuhanan-Nya.



Keilahian Kristus membuat-Nya tak dapat berbuat dosa karena:


1. ImunitasNya - identitas diriNya yang tak pernah berubah (Ibrani 1:12, 3:8) Ia tetap kudus baik dulu, sekarang dan selama-lamanya.

2. KekuatanNya (Omnipotensi) - jatuh ke dalam godaan menunjukkan suatu kelemahan moral atau kurangnya suatu kekuatan. Kristus mempunyai kuasa yang besar dan karenanya tidak dapat jatuh ke dalam dosa.

3. KemahatahuanNya (Omniscience) - Iblis menjatuhkan kita dengan cara menipu kita, tapi Yesus mempunyai pengetahuan illahi sehingga Ia tak dapat ditipu.



Yesus Kristus bukan hanya Kudus tanpa dosa, namun Ia pun berkuasa memberi kekudusan karena Ia berkuasa mengampuni dosa :


* Markus 2:5
LAI TB, Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"
KJV, When Jesus saw their faith, he said unto the sick of the palsy, Son, thy sins be forgiven thee.
TR, ιδων δε ο ιησους την πιστιν αυτων λεγει τω παραλυτικω τεκνον αφεωνται σοι αι αμαρτιαι σου
Translit Interlinear, idôn de {ketika melihat} ho iêsous {Yesus} tên pistin {iman} autôn {mereka} legei {Ia berkata} tô {itu} paralutikô {kepada (orang) lumpuh } teknon {hai anak} apheôntai {diampuni} soi {mu} hai hamartiai {dosa-dosa} sou {mu}

Sumber :
- Dr. John Bechtle, Christian Answer © 1996, Eden Communications,
- John F. Walvoord's, Jesus Christ Our Lord. (Chicago: Moody Press, 1969), pp. 147-152.
(Sarapan pagi Biblika)

Keadaan Tak Berdosa dari Kristus


Para ahli theologia ortodoks pada umumnya setuju bahwa Yesus Kristus tak pernah melakukan dosa apapun juga. Agaknya ini adalah kesimpulan wajar bagi keilahianNya dan syarat mutlak bagi pekerjaanNya untuk menggantikan orang berdosa di atas kayu salib. Sesuatu pernyataan bahwa Kristus pernah mengalami kegagalim moral membutuhkan sebuah ajaran tentang' pribadi Nya yang dalam satu segi menyangkal keilahian mutlakNya.

Suatu pertanyaan yang dilontarkanoleh ahli-ahli theologia ortodoks ialah, apakah ketidakberdosaan Kristus ini adalah sama dengan ketidak-berdosaan Adam sebelum kejatuhan, atau apakah memiliki suatu ciri khas karena adanva tabiat ilahi. Dengan satu kalimat, dapatkah Anak Allah dicobai seperti Adam dicobal dan dapatkah Ia berbuat dosa seperti Adam berbuat dosa? Sedangkan kebanyakan ahli theologia. ortodoks setuju bahwa Kristus dapat dicobal karena adanya tabiat manusiawi, suatu perselisihan terjadi tentang pertanyaan apakah dengan dicobai Ia dapat berbuat dosa.


Definisi Ketidakberdosaan


Ada pandangan yang percaya bahwa Kristus dapat berdosa, tetapi ada pula yang percava bahwa Kristus tidak dapat berdosa, sebab adanya tabiat ilahi di dalam Dia. Timbul pertanvaan terhadap pandangan kedua ini : apakah orang yang tak dapat berdosa masih bisa dicobai? Apabila Kristus mernilih tabiat manusiawi yang dapat dicobai bukankah ini di dalam dirinya suatu bukti bahwa la dapat berbuat dosa? Pandangan orang-orang yang percaya bahwa Kristus dapat berbuat dosa dinyatakan oleh Charles Hodge yang telah mengihtisarkan ajaran ini sebagai berikut:

    Bagaimanapun, ketidak-berdosaan Tuhan kita tidak sama dengan tidak-dapat-berdosa yang mutlak. Hal itu bukan suatu "non potest peccare." Apabila Ia manusia sejati tentulah la mampu berbuat dosa. Bahwa Ia tidak berbuat dosa di bawah provokasi yang terberatpun, bahwa ketika Ia dihina Ia bahkan memberkati, ketika Ia menderita Ia tidak mengancam, ketika Ia seperti domba di depan pengguntingnya la membisu, adalah merupakan suatu teladan bagi kita. Pencobaan mengandung kemungkinan berbuat dosa. Apabila dari pembawaan pribadi-Nya tidak mungkin Kristus berbuat dosa, maka pencobaan yang dialaminya tidak nvata dan tidak berakibat apa-apa, dan Ia tidak dapat menaruh simpati terhadap kita.


Persoalan yang dikemukakan oleh Hodge itu sungguh nyata dan, mengingat pengalaman kita sendiri pencobaan selalu disertai dengan kemungkinan untuk berdosa. Bagaimanapun juga Hodge mengakui bahwa ada beberapa pokok dalam argumentasinva yang mengundang pertanyaan. Untuk memecahkan persoalan mengenai apakah Kristus dapat berbuat dosa, perlu pertarna sekali, kita memeriksa sifat pencobaan itu sendiri untuk rnenentukan apakah kemungkinan untuk berdosa masuk di dalamnya. Kedua, menentukan faktor yang unik di dalam Kristus, yaitu bahwasanya la memiliki dua tabiat, yang sebuah tabiat ilahi dan yang lain tabiat manusiawi yang tak berdosa.

Dapatkah seseorang yang tak dapat berbuat dosa dicobai? Sudah disetujui oleh orang-orang yang berpendapat bahwa Kristus tidak berbuat dosa bahwa Ia tidak memiliki tabiat dosa. Maka, pencobaan apapun yang datang kepadaNya, adalah berasal dari luar dan tidak dari dalam, Seandainya dorongan wajar dari suatu tabiat yang tak berdosa dapat menjadi dosa bila tak terkontrol, tetapi tidak ada tabiat dosa untuk menyarankan dosa dari dalam dan membentuk suatu dasar yang menguntungkan bagi pencobaan. Harus diakui oleh Hodge, yang menolak pandangan "Kristus tak dapat berdosa," bahwa dalam hal apa saja pencobaan Kristus adalah berbeda dari pencobaan orang berdosa.

Tidak hanva disetujui kenyataan bahwa Kristus tidak memiliki tabiat dosa, tetapi sebaliknya juga disetujui bahwa tentang pribadiNya Ia dicobai. Hal ini jelas dinyatakan di dalam Ibrani 4:15: "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa."

Juga jelas bahwa pencobaan ini datang kepada Kristus berdasarkan fakta bahwa la memiliki tabiat manusiawi, sebagaimana dinyatakan oleh Yakobus: "Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata, pencobaan ini datang dari Allah! Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun."

Pada satu pihak, Kristus dicobai dalam segala segi kecuali melalui pencobaan yang berasal dari tabiat dosa, sebab Ia tidak mempunyai tabiat dosa, dan pada pihak lain tabiat ilahi-Nya tidak dapat dicobai karena Allah tidak dapat dicobai. Apabila tabiat manusiawi Nya memang dapat dicobai, maka tabiat ilahiNya tidak dapat dicobai. Pada pokok ini semua orang dapat setuju.


Persoalannya kemudian ialah, dapatkah seorang seperti Kristus yang memiliki tabiat manusiawi dan ilahi sekaligus, dicobai, apabila Ia tidak dapat berbuat dosa?

Jawabnya harus ya.

Pertanyaannya adalah, mungkinkah mencobai yang tak mungkin dicobai? Akan hal ini semua akan setuju. Mungkin saja sebuah perahu dayung menyerang sebuah kapal perang, bahkan walaupun sudah pasti tidak mungkin perahu dayung itu mengalahkan kapal perang tersebut. Pemikiran yang mengatakan bahwa karena dapat dicobai lantas berarti mudah dipengaruhi, adalah tidak sehat, Meskipun pencobaan itu dapat nyata sekali, juga kuasayang melawan pencobaan itu dapat tidak terbatas dan apabila kuasa ini tak terbatas, maka orangnya tidak dapat berbuat dosa. Perhatikan bahwa pencobaan yang sama yang mudah sekali dilawan oleh seorang yang karakternya kuat, akan dirangkum oleh seorang yang karakternya lemah. Pencobaan yang datangnya dari minuman keras tidak mudah menjatuhkan seorang yang tidak biasa minum, tetapi gam pang sekali menjatuhkan seorang peminum. Dalam kedua kasus itu pencobaannya mungkin sama. tetapi orang-orang yang mengalami pencobaan itu memiliki kekuatan yang berbeda untuk menolaknya. Dengan demikian dapatlah ditunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang perlu antara hal dapat dicobai dan hal dapat berdosa. Jadi, pandangan Hodge yang mengatakan bahwa pencobaan itu haruslah tidak nvata apabila orang yang dicobai tak dapat berbuat dosa, adalah tidak tepat.

Sebagaimana William G. T.Shedd menunjukkan, hal dapat dicobai bergantung pada hal dapat dipengaruhi secara pembawaan untuk berdosa, padahal hal-tak-dapat-berdosa bergantung pada kehendak yang mempunyai kuasa besar untuk tidak berdosa. Shedd menulis.

    Keberatan yang ada terhadap ajaran bahwaKristus tidak dapat berbuat dosa ialah bahwa ini bertentangan dengan kenyataan yang Kristus dapat dicobai.. Seorang yang tak dapat berdosa dikatakan, tak dapat dicobai untuk berbuat dosa. Ini tidak betul; sama seperti mengatakan bahwa karena satu angkatan peranq tak dapat dikalahkan maka mereka tidak dapat diserang. Hal. dapat dicobai bergantung kepada hal dapat dipengaruhi secara pembawaan, tetapi hal tak dapat berbuat dosa bergantung kepada kehendaknya. Sejauh menyangkut hal dapat dipengaruhi yang wajar dari Kristus, baik secara fisik dan mental, Yesus Kristus terbuka bagi segala bentuk pencobaan manusiawi kecuali pencobaan yang berasal dari daging, atau tabiat yang rusak. Tetapi hal dapat berdosaNya, atau kemungkinan dikalahkan oleh pencobaan-pencobaan itu, bergantung pada besarnya perlawanan menurut kehendakNya untuk menentang pencobaan itu. Pencobaan-pencobaan itu sangat kuat, tetapi apabila keputusan diri dari kehendak suciNya lebih kuat dari pada pencobaan-pencobaan tersebut, maka pencobaan-pencobaan itu tidak dapat mempengaruhi Dia untuk berbuat dosa, dan Ia akan menjadi tidak dapat berbuat dosa. Tetapi jelas Ia dapat dicobai.[1]


Pertanyaan tentang apakah pribadi yang tak dapat berbuat dosa bisa dicobai, diilustrasikan oleh contoh dari malaikat-malaikat pilihan ini dikemukakan oleh Shedd dalam kelanjutan diskusinya atas masalah hal tak dapat berbuat dosa :

    Bahwa makhluk yang tak dapat berbuat dosa bisa dicobai, dibuktikan dari contoh malaikat-malaikat pilihan.Setelah "mempertahankan keadaannya yang semula," maka sekarang mereka tak dapat berbuat dosa, bukan oleh kekuatan mereka sendiri, melainkan oleh kekuatan yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Tetapi mereka masih bisa dicobai, watau kami mempunyai alasan bahwa mereka tidak dicobai lagi. Hal dapat dicobai adalah salah satu batasan yang perlu bagi roh yang terbatas itu. Tak ada satu makhluk-pun yang berada di luar kemungkinan untuk dicobai, wataupun ia barangkali, oleh anugerah, di luar kemungkinan untuk menyerah kepada pencobaan. Satu-satunya yang tak dapat dicobai ialah Allah; ho gar theos apeirastos (Yakobus 1:13). Dan ini asalnya dari tabiat satu Pribadi yang tak terbatas. Ambisi tentang sesuatu adalah motif yang ada pada dasar semua pencobaan. Ketika makhluk itu dicobai, disarankan kepadanya untuk berusaha "menjadi seperti allah." Ia dianjurkan untuk berusaha memperoleh tempat yang lebih tinggi dari keadaannya sekarang sebagai makhluk Tetapi hal ini tentu saja tidak dapat dikenakan kepada Makhluk Tertinggi Ia sudah Allah atas segala sesuatu dan disembah selama-lamanya. Karena itu Ia mutlak tak dapat dicobai.


Apakah pencobaan-pencobaan yang dialami Kristus itu nyata?

Apabila pencobaan dari satu pribadi yang tak dapat berbuat dosa dianggap mungkin, dapatkah dikatakan tentang Kristus bahwa pencobaan-pencobaanNya nyata? Jikalau di dalam diriNya tidak ada tabiat yang sesuai untuk menyambut dosa, benarkah pencobaan itu nyata?

Pertanyaan ini juga harus dijawab ya.

Dalam umat manusia, kenyataan. pencobaan itu dapat dengan mudah dibuktikan oleh banyaknya dosa. Walaupun bagi Kristus tidak demikian, tetap terbukti bahwa pencobaan-pencobaan pada Kristus adalah nyata. Meskipun Kristus tak pernah mengalami pergumulan batin dari dua tabiat seperti yang dialami oleh Paulus dalam Roma 7, ada ban yak bukti tentang nvatanva pencobaan itu. Empat-puluh hari di padang gurun, setelah itu Kristus dicobai, menandai suatu usaha pada mana tak satupun manusia lain pernah mendapatnya. Pencobaan untuk mengubah batu menjadi roti merupakan pencobaan yang sangat nyata karena Kristus memiliki kuasa untuk melakukannya. Pencobaan untuk mempertunjukkan di muka umum tentang perlindungan Allah terhadap Kristus dengan melemparkan diri Nya dari atas Bait Allah juga merupakan pencobaan yang paling nyata. Tak seorang lainpun yang pernah ditawari kemuliaan dunia oleh iblis, tetapi Kristus demikian dicobai dan tetap tidak berbuat dosa, Walaupun pada satu pihak benar yang Kristus tidak mengalami pencobaan-pencobaan yang timbulnya dari sebuah tabiat dosa, sebaliknya, la dicobai dalam hal tak seorang lain pun pernah dicobai. Ditambahkan kepada tabiat pencobaan itu sendiri adalah kepekaan yang lebih besar dari Kristus. Tubuh Nya yang tanpa dosa adalah jauh lebih peka terhadap rasa lapar dan pemakaian sewenang-wenang dari pada orang-orang lain. Tetapi meskipun dcmikian, di dalam mengalami keinginan-keinginan ini secara penuh, Kristus sama sekali dapat menguasai diriNya.

Ujian terakhir tentang kenyataan pencobaan-pencobaanNya terdapat dalam pernyataan pergumulanNya di Getsemani dan kematianNya di atas kayu salib. Tak seorangpun dapat mengetahui pencobaan dari seorang yang suci untuk menghindari hukuman bagi dosa dunia. Inilah pencobaan terbesar untuk Kristus, sebagaimana kelihatan dalam sifat pergumulan dan penyerahanNya, Di atas kayu salib pencobaan yang sama tampak di dalam ejekan musuh-musuhNya untuk turun dari salib itu. Kristus dengan rela terus menanggung sengsara salib itu dan dari kehendakNya sendiri menyerahkan rohNya ketika saatnya tiba. Tidak ada pencobaan lebih .besar dari pada ini yang dapat dibayangkan. Meskipun pencobaan-pencobaan Kristus, karena itu, tidak selalu tepat sejajar dengan pencobaan-pencobaan kita, la telah dicobai sedalam-dalamnya bahkan sebagaimana kita dicobai. Dan kita dapat datang kepadaNya sebagai Imam Besar kita dengan keyakinan bahwa la sepenuhnya mengerti kekuatan pencobaan dengan keyakinan bahwa la sepenuhnya mengerti kekuatan pencobaan itu dan dosa, karena l a sendiri telah menqalarninva di dalam hidup dan kematian Nya (Ibrani 4:15). Pencobaan-pencobaan Kristus, oleh .karena itu, memiliki suatu kenyataan yang sungguh, tanpa sesaatpun mengurangi hal-tak-dapat-berbuat-dosa Nya. Jadi karena itu, suatu ajaran yang patut tentang hal-tak-dapat-berdosa dari Kristus ini justru yang menguatkan kenyataan pencobaan-pencobaan Kristus disebabkan la memiliki tabiat manusiawi yang dapat dicobai. Apabila tabiat manusiawi itu tak dapat dipertahankan sebagaimana dalam kasus Adam oleh suatu tabiat ilahi, jelas bahwa tabiat manusiawi Kristus boleh jadi telah berdosa. Kemungkinan ini bagaimana-pun juga sepenuhnya dihapuskan oleh adanya tabiat ilahi.



Bukti Ketidakberdosaan Kristus.


Pemecahan akhir dari masalah ketidakberdosaan Kristus terletak dalam hubungan dari tabiat ilahi dan tabiat manusiawi. Pada umumnya disetujui bahwa setiap tabiat itu, ilahi dan manusiawi, mempunyai kehendaknya sendiri-sendiri dalam pengertian keinginan. Tetapi keputusan terakhir dari pribadi itu, dalam pengertian kehendak yang berdaulat, selalu selaras dengan keputusan tabiat ilahi Nva; Hubungan hal ini dengan masalah ketidak-berdosaan adalah jelas. Tabiat manusiawi, karena dapat dicobai, bisa menginginkan sesuatu yang apabila dikerjakan bertentangan dengan kehendak Allah. Dalam pribadi Kristus, bagaimanapun juga, kehendak manusiawiNya selalu mengabdi kepada kehendak ilahiNya dan tak pernah bertindak sendiri. Sedangkan semua setuju bahwa kehendak ilahi dari Allah tidak dapat berdosa, maka kwalitas ini menjadi kwalitas pribadiNya dan Kristus menjadi tak-dapat-berbuat-dosa. Shedd telah menerangkan pokok ini sebagai berikut :

Ketidak-mungkinan-berdosa dari Kristus dibuktikan oleh hubungan dari kedua kehendak di dalam pribadiNya. Setiap tabiatNya memiliki kehendaknya sendiri. Tetapi yang terbatas tidak pernah akan bertentangan dengan yang tak terbatas, melainkan menaati sepenuhnya dengan tetap. Apabila ini tidak demikian, maka akan ada suatu konflik dalam kesadaran diri Yesus Kristus, sama dengan yang ada dalam kesadaran diri rasul Paulus. Ia juga akan berkata, "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidakaku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat, Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?" (Roma 7: 19,20,24). Tetapi Kristus tidak pernah berkata semacam ini, sebaliknya Allah-Manusia ini dengan tenang bertanya : "Siapakah di antararnu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?" (Yohanes 8:46), dan pernyataan yang tegas darirasul Yohanes : "Di dalam Dia tidak ada dosa" (I Yohanes 3: 5). Baik dalam doa-doaNya maupun dalam kata-kataNya, dalam bentuk apapun, Yesus Kristus tak pernah mengucapkan pengakuan dosa pribadiNya. Sebab memang di dalam diriNya tidak ada dosa sama sekali. Ia tidak dapat menguraikan pengalaman agamaNya seperti yang dilakukan rasul-rasul-Nya, dan umatNya : "Keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging" (Galatia 5: 17).

Shedd seperti halnya sebagian besar Bapa-Bapa gereja tidak menerangkan bedanya keinginan dan kehendak. Bahwasanya tabiat manusiawi dan tabiat ilahi Kristus dapat mempunyai keinginan atau kemauan yang berbeda itu sudah terang. Tetapi di dalam tabiat kepribadianNya tidak bisa ada dua kehendak yang menentukan. Keputusan bisa merupakan hasil dari keputusan an tara dua kemauan, tetapi tidak mungkin ada dua kehendak dalam pengertian kehendak-kehendak yang berdaulat di dalam satu pribadi, bahkan di dalam satu Pribadi yangunik seperti Kristus. Semua ahli theologia ortodoks setuju bahwa keputusan terakhir dicapai oleh Kristus di dalam semua kasus adalah merupakan sebuah tindakan kehendak dari pribadiNya di dalam mana tabiat ilahiNya menguasai keputusan itu. Kehendak manusiawi tak pernah dapat melampaui kemauan di mana hal itu bertentangan dengan kehendak ilahiNya.

Persoalan tentang ketidak-berdosaan Kristus ini oleh karenanya menguraikan dirinya kedalam sebuah pertanyaan mengenai apakah sifat-sifat Allah dapat diselaraskan dengan ajaran hal-dapat-berdosa. Konsep tentang hal-dapat-berdosa di dalam pribadi Kristus secara pokok bertentanqan dengan sifat-sifat tak dapat berubah, mahakuasa dan mahatahu Nya.

Fakta tentang ketidak-berubahan Kristus ini adalah faktor menentukan yang pertama tentang hal ketidakberdosaanNya. Menurut Ibrani 13: 8, Kristus "tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya", dan sebelumnya dalam surat kiriman yang sama ada mengutip ayat dari Mazmur 102: 27, "Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan" (Ibrani 1: 12). Karena di masa kekekalan lampau Kristus adalah suci, maka perlu sekali sifat kesucian ini maupun sifat-sifat lainnya dipelihara tetap tak berubah selama-lamanya. Maka, karena Ia tidak berubah, tentulah Kristus tak mungkin berbuat dosa. Apabila kita tak dapat memikirkan bahwa Allah dapat berdosa pada kekekalan di masa lampau, maka seharusnya juga benar yang Allah tidak mungkin berbuat dosa di dalam pribadi Kristus yang berinkarnasi. Tabiat dari pribadi Nya mencegah Dia terpengaruh untuk berbuat dosa.

Kemahakuasaan Kristus juga menjadikan tak mungkin Ia berbuat dosa. Hal dapat berdosa selalu mencakup kelemahan di bagian orang yang dicobai; ia lemah sampai pada batas ia dapat berdosa. Mengenai Kristus, ini jelas tak usah dipersoalkan. Meskipun tabiat manusiawi Kristus, jikalau ditinggalkan sendiri, dapat berbuat dosa dan mampu dicobai, tetapi karena dihubungkan dengan tabiat ilahi yang mahakuasa, pribadi Kristus menjadi tak dapat berbuat dosa. Dengan kata lain, pribadi Kristus tak mungkin berdosa.

Kita harus hati-hati membedakan antara kemahakuasaan, yang mempunyai kwalitas tak terbatas dan karena itu akan tetap tak dapat berbuat dosa, dengan konsep tentang kuasa atau anugerah yang cukup. Hal-tak-dapat-berbuat-dosa didefinisikan sebagai tak mungkin berdosa karena tak bisa berdosa, sedangkan konsep tentang kuasa yang cukup semata-mata berarti "dapat tidak berdosa." Satu makhluk moral dan Allah yang ditahan oleh anugerah Allah, dapat mencapai pengalaman moral tentang menjadi dapat-tidak-berdosa sebagaimana diilustrasikan dalam setiapkemenangan atas pencobaan di dalam kehidupan Kristen, Semua setuju bahwa Kristus dapat tidak berdosa, bahkan mereka yang berpandangan bahwa la dapat berbuat dosa. Bagaimanapun juga, yang menjadi kontrasnya ialah antara pemikiran tentang kuasa yang cukup dan kemahakuasaan. Kwalitas tak terbatas dari kemahakuasaan membenarkan pernyataan bahwa Kristus tak dapat berbuat dosa.

Adalah suatu spekulasi yang bodoh untuk berusaha menentukan apa yang akan dilakukan oleh tabiat manusiawi Kristus apabila tidak dihubungkan dengan tabiat ilahiNya. Fakta yang ada tetap menyatakan bahwa tabiat manusiawi itu dihubu ngkan dengan tabiat ilahi dan, meskipun keadaannya ,sendiri seluruhnya manusiawi, tabiat itu tidak dapat melibatkan pribadi Kristus di dalam dosa. Atas dasar kemahakuasaan, dapat disimpulkan bahwa Kristus tidak dapat berdosa karena la mem punyai kuasa yang tak terbatas untuk melawan pencobaan.

Kemahatahuan Kristus memberikan sokongan besar bagi ketidak-berdosaNya. Dosa seringkali datang karena ketidaktahuan orang yang dicobai. Itulah sebabnya Hawa tertipu dan berdosa, walaupun Adam tidak tertipu tentang sifat pelanggaran itu. Dalam hal Kristus, akibat-akibat dosa itu dengan sempurna diketahuinya dengan segala faktor yang menyokongnya. Tak mungkin bagi Kristus yang memiliki kemahatahuan untuk melakukan hal yang la tahu hanya dapat membawa celaka besar yang kekal kepada diriNya dan kepada umat manusia. Dengan sekaligus memiliki juga kebijaksanaan yang tak terbatas untuk melihat d osa dengan sebenarnya dan pad a saat yang sama memiliki kuasa tak terbatas untuk melawan pencobaan, jelas bahwa Kristus tidak mungkin berbuat dosa.

Sungguh tak masuk akal menganggap Kristus dapat berdosa. Terang bahwa Kristus tak dapat berdosa di dalam sorga sekarang bahkan walaupun Ia memiliki kemanusiaan yang sejati. Apabila Kristus tak dapat berbuat dosa di sorga karena siapakah la adanya, maka demikian juga Kristus tak dapat berbuat dosa di bumi karena siapakah Ia dulu adanya.
Meskipun mungkin saja Kristus dalam-tubuh manusiawi-Nya mengalami pembatasan dari jenis yang bukan moral – seperti semacam kelemahan, penderitaan, kelelahan, duka-cita, lapar, amarah dan bahkan kematian – tak satupun dari semuanya ini dapat menciptakan komplikasi yang mempengaruhi kesucianNya yang tak dapat berubah itu. Allah dapat saja mengalami melalui tabiat manusiawi Kristus akan hal-hal ini yang biasa menimpa umat manusia, tetapi Allah tidak dapat berbuat dosa bahkan walaupun dihubungkan dengan satu tabiat manusiawi. Apabila dosa dimungkinkan dalam kehidupan Kristus, seluruh rencana alam semesta bergantung pada hasil dari pencobaan-pencobaanNya. Ajaran mengenai kedaulatan Allah pasti menghalangi keadaan semacam itu. Oleh karena itu tidak cukup mengatakan bahwa Kristus tidak berbuat dosa, melainkan Ia patut dipermuliakan karena Ia tidak dapat ebrbuat dosa. Walaupun pribadi kristus dapat dicobai, tetapi dosa tak mungkin masuk ke dalam kehidupanNya yang sudah ditentukan sejak kekekalan untuk menjadi Anak Domba Allah yang tak bercacat cela.

[1] William G. T.Shedd, Dogmatic Theology, II, p 336.
Sumber :
John F Walvoord, Yesus Kristus Tuhan Kita, Yakin, p 133-141
(Sarapan Pagi Biblika)

Kamis, 25 Februari 2010

TIPS POLA TIDUR YANG SEHAT

Setiap orang pastinya membutuhkan istirahat agar tubuh dan pikirannya kembali segar. Namun apa Anda yakin kamar tidur dan pola tidur Anda sudah sesuai dengan kebutuhan istirahat? Simak tips berikut ini

Waktu tidur yang dianggap baik adalah selama 7-8 jam. Namun kini waktu itu tak lagi menjadi patokan. Selama kualitas tidur itu baik, tak peduli lama atau sebentar, Anda juga bisa kembali fresh keesokan harinya. Ini dia triknya!

1. Sesungguhnya para peneliti hanya mengenal kamar tidur sebagai dua fungsi. Yang pertama untuk melakukan aktivitas seks dan untuk tidur. Bila kamar tidur dan kasur Anda telah digunakan untuk fungsi lain, ini justru akan mengurangi kualitas ruang istirahat. Jadi jangan sekali-kali menyatukan ruang tidur dengan ruang kerja atau belajar. Untuk Anda yang masih kos sebaiknya fungsikan bagian-bagian kecil di kamar dengan sebaik mungkin. Sehingga kasur hanya dipakai untuk tidur selebihnya lakukan aktivitas lain seperti belajar atau menonton TV di tempat lain.

2. Hindari ornamen ruang tidur dengan interior berwarna terang atau ramai. Untuk mengubah jam malam Anda coba gantungkan jam dinding berlawanan dengan arah pandang.

3. Jika belum bisa tidur juga jangan berlama-lama berbaring di atas tempat tidur. Lebih baik bangun dan lakukan aktivitas lain. Hindari tempat tidur sebelum Anda merasa terkantuk.

4. Tetapkan waktu tidur yang teratur. Jam tidur yang berantakan bisa mengganggu jam biologis Anda. Walau telat tidur bukan berarti Anda bisa bangun lebih siang. Awalnya memang sulit namun jika pola itu sudah tertanam dengan baik pasti bisa dijalani.

5. Tak usah memaksakan diri jika tak bisa tidur siang. Tidur siang hanyak akan memulihkan keletihan sesaat saja namun akibatnya Anda jadi susah tidur di malam hari. Pola Anda akan berubah jika hal ini terjadi.

6. Setelah makan siang hindari mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung caffein atau zat stimulan lainnya. Caffein yang terdapat pada kopi ata teh dan zat stimulan pada minuman ringan dan cokelat terbukti bisa menyebabkan pola tidur terganggu.

7. Dua jam sebelum tidur hindari rokok dan minuman beralkohol. Rokok juga bisa merupakan stimulan bagi pusat syaraf manusia yang membuat susah tidur. Minuman beralkohol mungkin saja membuat Anda cepat tidur tapi ini malah mengakibatkan kerap terbangun di malam hari.

8. Hindari juga makan besar dua jam sebelum waktu tidur tiba. Ini akan membuat perut tak enak saat berbaring akibatnya Anda pun susah terlelap.

9. Tenangkan pikiran dan mental Anda. Jangan terlalu banyak memikirkan masalah ketika menjelang tidur malam. Siapkan diri untuk tidur dan mimpi indah.

Selamat tidur indah!

http://www.detikhot.com

Lima Momen Potensial Serangan Jantung

TEMPO Interaktif, Jakarta - Bagi anda yang punya masalah dengan jantung, sedikitnya ada lima momen yang perlu anda waspadai. Sebab hal itu bisa menjadi pemicu terjadinya serangan jantung.

1.Pagi hari

Risiko serangan jantung 40 persen diantaranya terjadi di pagi hari. Dari kajian para ahli dari Universitas Harvard menyebutkan, saat seseorang terbangun dari tidur di pagi hari, tubuh akan mengeluarkan adrenaline dan hormon lainnya. Semua itu selanjutnya akan meningkatkan tekanan darah dan butuh lebih banyak menyerap oksigen. Selain itu, umumnya kondisi darah saat bangun tidur lebih kental. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras.

Untuk mencegah hal yang tak diinginkan, saat terbangun tidak ada salahnya jika anda bermalas-malasan barang sejenak.

2. Hari Senin

Kalau banyak orang mengakatan, "I don't like monday" itu bisa dipahami. Sebab mengawali hari kerja setelah dua hari libur biasanya terasa memuakkan. Sebanyak 20 persen serangan jantung terjadi pada Senin pagi. Penyebabnya, tak lain karena banyak orang merasa stres dan depresi memikirkan kembali harus bekerja.

3. Setelah Ngemil
Mengemil makanan yang mengandung karbohidrat tinggi, terutama di malam hari, sebaiknya dihindari. Sebab hal itu akan mempersempit pembuluh darah, sehingga amat rentan terjadinya pembekuan darah.

4. Berolahraga secara berlebihan

Segala sesuatu

yang berlebihan memang biasa menghasilkan sesuatu yang tidak baik. Tak terkecuali berolah raga. Apalagi jika anda sebelumnya tak pernah berolah raga. Akibat olah tubuh yang berlebihan, semua organ tubuh akan mengalami syok. Tekanan darah pun akan meningkat drastis sehingga memicu terjadinya serangan jantung.

5. Di Mimbar

Bagi orang yang terbiasa berbicara di hadapan khalayak, berdiri di depan mimbar pasti akan membuatnya gugup luar biasa. Demam panggung yang berlebihan ini biasanya akan membuat jantung berdebar dan sesak nafas.

Rabu, 24 Februari 2010

10 KUALITAS PRIBADI YANG DISUKAI

1. Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang dibawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janjinya, mempunyai komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi dari pada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

5. Karena tidak semua orang dikaruniai tempramen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seeorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Orang yang "Easy Going" menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya.

10. Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.